Banyaknya cabang biologi menunjukkan luasnya ruang lingkup biologi. Tahukah kamu apa saja yang dipelajari dalam biologi? Kajian biologi sangat luas, meliputi semua makhluk hidup dari tingkat biosfer, individu, hingga tingkat molekuler. Tahukah kamu, ada berapa banyak makhluk hidup yang ada di bumi dan ada berapa kingdom dalam sistem klasifikasi terbaru? Sistem klasifikasi terbaru yang diusulkan Carl Woese pada tahun 1977 membagi makhluk hidup menjadi 6 kingdom yaitu Eubacteria, Archaebacteri, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia. Sebelumnya Robert Whittaker pada tahun 1969 mengelompokkan makhluk hidup menjadi 5 kingdom yaitu Monera, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia. Dalam buku ini kamu mengikuti sistem klasifikasi enam kingdom seperti yang diusulkan oleh Carl Woese.
Showing posts with label Materi Online. Show all posts
Showing posts with label Materi Online. Show all posts
Friday, August 26, 2011
Biologi - Cabang-Cabang Biologi | Materi SMA
Biologi merupakan ilmu yang luas, sehingga dibagi menjadi cabang-cabang berdasarkan objek yang dipelajarinya. Untuk menyederhanakan, biologi dibedakan menjadi beberapa kajian yaitu kajian tingkat molekul, sel, organisme, dan populasi. Biologi molekuler menjadi dasar bagi perkembangan. Berkat jasanya, kamu dapat memahami struktur dan fungsi molekul-molekul penyusun tubuh seperti asam nukleat dan protein, termasuk mekanisme pewarisan sifat pada semua makhluk hidup. Jasa penting yang lain adalah pengetahuan tentang proses metabolisme sehingga kamu dapat memahami bagaimana energi dihasilkan dan digunakan pada sistem kehidupan.
Biologi - Perkembangan Biologi | Materi SMA
Biologi berkembang karena rasa ingin tahu manusia dalam merespons gejala-gejala alam. Biologi merupakan ilmu yang paling tua di bumi. Kamu tentu memahami bahwa manusia pertama harus mempunyai pengetahuan yang baik mengenai hewan dan tumbuhan di sekitarnya. Mereka harus mengerti tanaman apa yang aman dimakan dan yang beracun, hewan apa yang aman diburu dan hewan buas. Bahkan sebelum manusia purba hidup menetap, mereka telah mulai menjinakkan hewan dan bercocok tanam. Dalam kegiatan ini mereka mulai mengamati jenis-jenis makhluk hidup dan lingkungannya.
Tuesday, August 23, 2011
Antropologi - Seni Pertunjukan | Materi SMA
Dalam bahasa Inggris, seni pertunjukan dikenal dengan istilah perfomance art. Seni pertunjukan merupakan bentuk seni yang cukup kompleks karena merupakan gabungan antara berbagai bidang seni. Jika kamu perhatikan, sebuah pertunjukan kesenian seperti teater atau sendratari biasanya terdiri atas seni musik, dialog, kostum, panggung, pencahayaan, dan seni rias. Seni pertunjukan sangat menonjolkan manusia sebagai aktor atau aktrisnya.
Antropologi - Bentuk-Bentuk Kesenian | Materi SMA
Biasanya, antropolog menyoroti seni sebagai suatu gejala kebudayaan, yaitu dengan aktivitas menyusun katalog, memotret, mencatat, dan mendeskripsikan seluruh bentuk kegiatan imajinatif pada suatu kebudayaan tertentu. Hasil imajinasi tersebut adalah berbagai jenis seni seperti musik, tarian sosial, legenda, pakaian, selimut, gaya tembikar, hiasan bangunan, monumen, dan lain-lain. Namun secara garis besar, beberapa bentuk kesenian tersebut dapat digolongkan sbb.
Antropologi - Pengertian Kesenian | Materi SMA
Kata seni berasal dari kata ”sani” yang kurang lebih artinya ”jiwa yang luhur atau ketulusan jiwa”.
Menurut kajian ilmu di Eropa, seni disebut ”art” (artivisial) yang artinya kurang lebih adalah barang/ atau karya dari sebuah kegiatan.
Thursday, January 27, 2011
Geografi - Metode Penelitian Geografi | Materi Sekolah Online
..:: GEOGRAFI ::..
Berdasarkan prinsip geografi, jelaslah bahwa pengetahuan geografi diperoleh melalui penelitian. Untuk melakukan penelitian diperlukan metode. Metode penelitian geografi berguna untuk mempelajari karakteristik Bumi dan kegiatan manusia.
Geografi - Prinsip Geografi | Materi Sekolah Online
..:: GEOGRAFI ::..
Setiap bidang ilmu mempunyai konsep dan prinsip tersendiri, meskipun terkadang ada kesamaan prinsip antara beberapa bidang ilmu. Prinsip suatu ilmu digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan fenomena yang terjadi dengan memahami karakteristik yang dimiliki dan keterkaitan fenomena tersebut dengan permasalahan lain. Adapun prinsip-prinsip yang dipegang dalam geografi sebagai berikut.
Geografi - Pendekatan Geografi | Materi Sekolah Online
Sebagai suatu disiplin ilmu, geografi mempelajari suatu sistem alam yang terdiri atas bagian-bagian yang saling terkait. Aliran energi dalam suatu sistem menghasilkan perubahan. Perubahan yang berkesinambungan akan menghasilkan suatu bentuk keseimbangan sistem.
Suatu sistem mempunyai tiga bagian yang berbeda, yaitu bagian komponen, bagian input, dan bagian output. Salah satu contoh sistem sederhana yang banyak diketahui dan dikenal luas adalah sistem hi-fi. Suatu sistem hi-fi tersusun dari beberapa komponen seperti amplifier, speaker, radio, tape, dan pemutar ”Compact Disk” (CD). Ketika kita menghubungkan sistem hi-fi dengan aliran listrik dan menghidupkannya, energi listrik mengalir melalui sistem serta menghidupkan seluruh komponen. Aliran energi ini disebut dengan input, sedangkan outputnya adalah musik yang kita dengar.
Wednesday, January 26, 2011
Geografi - Paradigma Geografi | Materi Sekolah Online
..:: GEOGRAFI ::..
Paradigma merupakan cara pandang keilmuan yang sama termasuk di dalamnya asumsi, prosedur, dan penemuan yang diakui serta diterima oleh sekelompok ilmuwan dan akhirnya diakui masyarakat pada umumnya. Sebagai suatu ilmu yang sudah lama berkembang, geografi juga mengalami pergeseran paradigma dalam studinya. Mulai dari masa tradisional hingga kontemporer.
Geografi - Konsep Geografi Menurut Beberapa Ahli | Materi Sekolah Online
..:: GEOGRAFI ::..
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, konsep geografi telah ada sejak zaman dahulu. Bangsa Yunani Kuno telah berusaha mendokumentasikan berbagai macam keterangan yang berkaitan dengan geografi. Geograf pertama pada masa itu adalah Thales (640–546 SM). Ia telah menyibukkan diri dengan berbagai penelitian dan menggali informasi geografi dengan melakukan perjalanan ke berbagai tempat.Geografi - Sejarah Geografi | Materi Sekolah Online
..:: GEOGRAFI ::..
Friday, March 26, 2010
Perkembangan Agama dan Kebudayaan Hindu–Buddha di Indonesia - Sejarah
1.
Bukti-Bukti Proses Interaksi di Beberapa Daerah dengan Hindu–Buddha
Terdapat
bukti yang kuat bahwa agama Buddha masuk ke Indonesia pada abad ke-2 Masehi,
yakni dengan ditemukannya arca Buddha dari perunggu di Sempaga (Sulawesi
Selatan). Arca Buddha ini, merupakan bukti tertua adanya pengaruh budaya India
di Indonesia. Penemuan arca itu juga sangat penting sebab memberikan petunjuk
kepada kita ke tinggian taraf hidup dan budaya rakyat Indonesia pada waktu itu.
Dilihat
dari ciri-cirinya, arca tersebut diperkirakan berasal dari langgam Arca Amarawati,
India Selatan (abad 2–5 SM). Ada kemungkinan bahwa arca ini merupakan barang
dagangan atau mungkin juga barang persembahan sesuai bangunan suci agama
Buddha. Arca sejenis juga ditemukan di Jember, Jawa Timur dan di Bukit
Siguntang (Sumatra Selatan). Adapunn di Kutai, Kalimantan Timur ditemukan arca
Buddha yang memperlihatkan arca seni Gandhara, India Utara.
Penemuan
prasasti-prasasti di Kutai dari Raja Mulawarman dan prasastiprasasti di
Tarumanegara dari Raja Purnawarman menunjukkan adanya proses penghinduan. Huruf
yang dipakai dalam prasasti-prasasti itu, ialah huruf Pallawa, dengan bahasa Sanskerta.
Selain itu, Raja Mulawarman juga sering mengadakan upacara-upacara keagamaan
dan mendatangkan brahmana-brahmana dari India. Semuanya ini menunjukkan adanya
pengaruh budaya dari India di Indonesia.
Pada
abad ke-4 Masehi agama dan kebudayaan Hindu masuk ke Indonesia. Prasasti-prasasti
dari Kerajaan Kutai dan Kerajaan Tarumanegara menunjukkan adanya proses
penghinduan. Pada mulanya yang berkembang terlebih dahulu ialah agama Hindu
baru kemudian agama Buddha (agama Buddha yang berkembang di Indonesia ialah
agama Buddha Mahayana). Hal ini terbukti bahwa raja-raja pertama di Indonesia
menganut agama Hindu, seperti Mulawarman dari Kerajaan Kutai dan Purnawarman
dari Kerajaan Tarumanegara. Lama kelamaan kedua agama ini terus berkembang,
silih berganti menjadi agama yang paling utama dalam negara. Setelah hidup
berdampingan secara damai selama berabad-abad, kemudian terjadi sinkretisme di
antara keduanya. Hasil sinkretisme tersebut menimbulkan suatu aliran agama baru
yang dikenal sebagai agama Siwa- Buddha. Aliran ini berkembang dengan pesat
pada abad ke-13 M. Penganut aliran ini, antara lain Raja Kertanegara dan
Adityawarman.
2.
Perkembangan Tradisi Hindu–Buddha
Sikap
aktif selektif diterapkan bangsa Indonesia terhadap kebudayaan dari luar,
artinya kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia diseleksi dan disesuikan dengan
kepribadian bangsa Indonesia. Oleh karena itu, setelah agama dan kebudayaan
Hindu–Buddha masuk ke Indonsia terjadilah akulturasi. Perwujudan akulturasi
antara kebudayaan Hindu–Buddha dengan kebudayaan Indonesia, antara lain sebagai
berikut.
a. Seni
Bangunan
Wujud
akulturasi seni bangunan terlihat pada bangunan candi, salah satu contohnya
adalah Candi Borobudur yang merupakan perpaduan kebudayaan Buddha yang berupa
patung dan stupa dengan kebudayaan asli Indonesia, yakni punden berundak
(budaya Megalithikum).
b. Seni
Rupa dan Seni Ukir
Akulturasi
di bidang seni rupa dan seni ukir terlihat pada Candi Borobudur yang berupa
relief Sang Buddha Gautama (pengaruh dari Buddha) dan relief perahu bercadik,
perahu besar tidak bercadik, perahu lesung, perahu kora-kora, dan rumah
panggung yang di atapnya ada burung bertengger (asli Indonesia). Di samping
itu, ragam hias pada candi-candi Hindu–Buddha dan motif-motif batik yang
merupakan perpaduan seni India dan Indonesia.
c. Aksara
dan Seni Sastra
Pengaruh
budaya Hindu–Buddha salah satunya menyebabkan bangsa Indonesia memperoleh
kepandaian membaca dan menulis aksara, yaitu huruf Pallawa dan bahasa
Sanskerta. Kepandaian baca-tulis akhirnya membawa perkembangan dalam seni
sastra. Misalnya, cerita Mahabarata dan Ramayana berakulturasi menjadi wayang
"purwa" karena wayang merupakan kebudayaan asli Indonesia. Demikian
juga kitab Mahabarata dan Ramayana digubah menjadi Hikayat Perang Pandawa Jaya
dan Hikayat Sri Rama, dan Hikayat Maharaja Rahwana.
Dalam
pertunjukan pewayangan yang merupakan kebudayaan asli Indonesia, isi ceritanya
dari India yang bersumber pada kitab Mahabarata dan Ramayana. Munculnya
punakawan, seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong adalah penambahan bangsa
Indonesia sendiri. Ragam hias pada wayang purwa adalah akulturasi seni India
dan Indonesia.
a. Sistem
Pemerintahan
Di
bidang pemerintahan dengan masuknya pengaruh Hindu maka muncul pemerintahan
yang dipegang oleh raja. Semula pemimpinnya adalah kepala suku yang dianggap
mempunyai kelebihan dibandingkan warga lainnya(primus interpares). Raja tidak
lagi sebagai wakil dari nenek moyang, tetapi sebagai penjilmaan dewa di dunia
sehingga muncul kultus "dewa raja".
b. Sistem
Kalender
Masyarakat
Indonesia telah mengenal astronomi sebelum datangnya pengaruh Hindu–Buddha.
Pada waktu itu astronomi dipergunakan untuk kepentingan praktis. Misalnya,
dengan melihat letak rasi (kelompok) bintang tertentu dapat ditentukan arah
mata angin pada waktu berlayar dan tahu kapan mereka harus melakukan aktivitas
pertanian.
Berdasaran
letak bintang dapat diketahui musim-musim yanga ada, antara lain musim kemarau,
musim labuh, musim hujan, dan musim mareng. Jadi di Indonesia telah mengenal
sistem kalender yang berpedoman pada pranatamangsa, misalnya mangsa Kasa
(kesatu) dan mangsa Karo (kedua).
Kebudayaan
Hindu–Buddha yang masuk ke Indonesia telah memiliki perhitungan kalender, yang
disebut kalender Saka dengan perhitungan 1 tahun Saka terdiri atas 365 hari.
Menurut perhitungan tahun Saka, selisih tahun Saka dengan tahun Masehi adalah
78 tahun.
c. Sistem
Kepercayaan
Nenek
moyang bangsa Indonesia mempunyai kepercayaan menyembah roh nenek moyang
(animisme) juga dinamisme dan totemisme. Namun, setelah pengaruh Hindu– Buddha
masuk terjadilah akulturasi system kepencayaan sehingga muncul agama Hindu dan
Buddha. Pergeseran fungsi candi. Misalnya fungsi candi di India sebagai tempat
pemujaan, sedangkan di Indonesia candi di samping tempat pemujaan juga ada yang
difungsikan sebagai makam (biasanya raja/pembesar kerajaan).
d. Filsafat
Akulturasi
filsafat Hindu Indonesia menimbulkan filsafat Hindu Jawa. Misalnya, tempat yang
makin tinggi makin suci sebab merupakan tempat bersemayam para dewa. Itulah
sebabnya raja-raja Jawa (Surakarta dan Yogyakarta) setelah meninggal dimakamkan
di tempat-tempat yang tinggi, seperti Giri Bangun, Giri Layu (Surakarta), dan
Imogiri (Yogyakarta).
Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Hindu–Buddha di Indonesia - Sejarah
Sejak
zaman prasejarah penduduk Indonesia dikenal sebagai pelaut ulung yang sanggup
mengarungi lautan lepas. Pada permulaan pertama tarikh Masehi, telah terjalin
hubungan dagang antara Indonesia dengan India. Hubungan ini kemudian juga
berkembang ke hubungan agama dan budaya. Hal ini disebabkan para pedagang dari
India tidak hanya membawa barang dagangannya, tetapi juga membawa agama dan
kebudayaan mereka sehingga menimbulkan perubahan kehidupan dalam masyarakat
Indonesia, yakni sebagai berikut.
- Semula hanya mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme, kemudian mengenal dan menganut agama Hindu–Buddha.
- Semula belum mengenal aksara/tulisan, menjadi mengenal aksara/tulisan dan Indonesia memasuki zaman Sejarah.
1. Hubungan Dagang Indonesia dengan India dan Cina
Pada
awal abad tarikh Masehi, negeri Kepulauan Nusantara telah menjalin hubungan
dengan bangsa-bangsa di Asia. Bentuk hubungan dagang yang berlangsung pada saat
itu bermula dari kegiatan perdagangan dan pelayaran. Sebagai akibat dari hubungan
perdagangan dan pelayaran, timbullah pertemuan kebudayaan yang melahirkan
kebudayaan baru bagi masyarakat Nusantara. Proses percampuran antara dua atau
lebih kebudayaan yang saling bertemu dan mempengaruhi itu disebut akulturasi
kebudayaan. Adanya hubungan dagang pada awal abad tarikh Masehi, didasarkan
adanya sumber-sumber baik ekstern maupun intern.
a. Sumber Ekstern
1) Sumber dari India
Menurut
Van Leur dan Wolters, kegiatan hubungan dagang Indonesia dengan bangsa-bangsa
Asia pertama kali dilakukan dengan India, kemudian Cina. Bukti adanya hubungan
dagang tersebut dapat diketahui datri kitab Jataka dan kitab Ramayana. Kitab
Jataka menyebut nama Swarnabhumi sebuah negeri emas yang dapat dicapai setelah
melalui perjalanan yang penuh bahaya. Swarnabhumi yang dimaksud ialah Pulau
Sumatra. Kitab Ramayana menyebut nama Yawadwipa dan Swarnadwipa. Menurut para
ahli, Yawadwipa (pulau padi) diduga sebutan untuk Pulau Jawa, sedangkan
Swarnadwipa (pulau emas dan perak) adalah Pulau Sumatra.
Nah,
kapan terjadi hubungan dagang antara India dengan Indonesia secara aktif? Kitab
Jataka dan kitab Ramayana tidak menyebut secara jelas terjadinya hubungan
dagang dengan tempat-tempat di Indonesia. Salah satu kitab sastra India yang
dapat dipercaya adalah kitab Mahaniddesa yang memberi petunjuk bahwa masyarakat
India telah mengenal beberapa tempat di Indonesia pada abad ke-3 Masehi. Dalam kitab
Geographike yang ditulis pada abad ke-2 juga disebutkan telah ada hubungan
dagang antara India dan Indonesia. Dari kedua keterangan tersebut, dapat
disimpulkan bahwa secara intensif terjadinya hubungan dagang antara Indonesia
dan India mulai abad-abad tersebut (abad ke 2-3 Masehi).
2) Sumber
dari Cina
Kontak
hubungan Indonesia dengan Cina diperkirakan telah berkembang pada abad ke-5.
Bukti-bukti yang memperkuat hubungan itu di antaranya adalah perjalanan seorang
pendeta Buddha, Fa Hien. Pada sekitar tahun 413 M, Fa Hien melakukan perjalanan
dari India ke Ye-po-ti (Tarumanegara) dan kembali ke Cina melalui jalur laut. Selanjutnya,
Kaisar Cina, Wen Ti mengirim utusan ke She-po ( Pulau Jawa). Berdasarkan
bukti-bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa pada abad ke-5 telah dilakukan
hubungan perdagangan dan pelayaran secara langsung antara Indonesia dan Cina.
Barang-barang
yang diperdagangkan dari Cina berupa sutra, kertas, ulit binatang berbulu,
kulit manis, dan barang-barang porselin. Barang-barang dagangan dari India
berupa ukiran, gading, perhiasan, kain tenun, gelas, permata, dan wol halus
yang ditukar dengan komoditas dari Indonesia seperti rempah-rempah, emas, dan
perak.
3) Sumber
dari Yunani
Keterangan
lain tentang adanya hubungan dagang antara Indonesia dengan India, dan Cina
dapat diketahui dari Claudius Ptolomeus, seorang ahli ilmu bumi Yunani. Dalam
kitabnya yang berjudul Geographike yang ditulis pada abad ke-2, Ptolomeus
menyebutkan nama Iabadio yang artinya pulau jelai. Mungkin kata itu ucapan
Yunani untuk menyebut Yawadwipa, yang artinya juga pulau jelai. Dengan
demikian, seperti yang disebutkan dalam kitab Ramayana bahwa Yawadwipa yang dimaksud
ialah Pulau Jawa.
b. Sumber
Intern
Adanya
sumber-sumber dari luar, seperti dari India, Cina dan Yunani, diperkuat adanya
sumber-sumber yang ada di Indonesia sendiri. Sumbersumber sejarah di dalam
negeri yang memperkuat adanya hubungan dagang antara Indonesia dengan India dan
Cina, antara lain sebagai berikut.
1) Prasasti
Prasasti-prasasti
tertua di Indonesia yang menunjukkan hubungan Indonesia dengan India, misalnya
Prasasti Mulawarman di Kalimantan Timur yang berbentuk yupa. Demikian juga
prasasti-prasasti Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat. Semua prasasti
ditulis dalam bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa.
2) Kitab-Kitab
Kuno
Kitab-kitab
kuno yang ada di Indonesia biasanya ditulis pada daun lontar yang ditulis
dengan menggunakan bahasa dan tulisan Jawa Kuno yang juga mwerupakan pengaruh
dari bahasa Sanskerta dan tulisan Pallawa. Kemampuan membaca dan menulis ini
diperoleh dari pengaruh Hindu dan Buddha.
3) Bangunan-Bangunan
Kuno
Bangunan
kuno yang bercorak Hindu ataupun Buddha terdiri atas candi, stupa, relief, dan
arca. Banyak peninggalan bangunan-bangunan kuno yang bercorak Hindu atau Buddha
di Indonesia. Demikian juga benda-benda peninggalan dinasti-dinasti Cina. Hal
ini menunjukkan adanya hubungan antara Indonesia, India, dan Cina.
Hubungan
dagang Indonesia dengan India dan Cina telah menempatkan Indonesia di kancah
perdagangan dan pelayaran masa Kuno. Namun, pengaruh kebudayaan India dan Cina
terhadap perkembangan sejarah Indonesia amat berbeda. Hal itu disebabkan dalam
perkembangan selanjutnya, para pedagang India di samping berdagang, mereka juga
menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu–Buddha.
Para
brahmana atau pendeta dengan ikut para pedagang berlayar, mereka singgah di
daerah-daerah untuk menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha. Dengan
demikian, hubungan dagang dengan India telah memunculkan perubahan besar dalam
tatanan kehidupan bangsa Indonesia, baik di bidang sosial, budaya, maupun
politik sebagai dampak dari persebaran agama dan kebudayaan Hindu– Buddha.
Terbukti di Indonesia muncullah kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan
Buddha yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan, Jawa,
Sumatra, dan Bali.
2. Pembawa
Pengaruh Agama dan Kebudayaan Hindu Buddha
Bagaimana
proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu–Buddha ke Indonesia?
Siapa yang membawa agama dan kebudayaan Hindu–Buddha ke Indonesia? Hal itu
menimbulkan berbagai macam interpretasi karena tidak ada bukti yang konkrit.
Ada beberapa hipotesis tentang masuknya agama dan budaya Hindu–Buddha ke
Indonesia, antara lain sebagai berikut.
a. Hipotesis
Waisya
Hipotesis
waisya mengungkapkan bahwa masuknya agama dan kebudayaan Hindu dibawa oleh
golongan pedagang (waisya). Mereka mengikuti angin musim (setengah tahun
berganti arah) dan enam bulan menetap di Indonesia dan menyebarkan agama dan
kebudayaan Hindu.
Menurut
para pendukung hipotesis waisya, kaum waisya yang umumnya merupakan kelompok
pedagang inilah yang berperan besar dalam menyebarkan agama dan kebudayaan
Hindu ke Nusantara. Mereka yang menjadikan munculnya budaya Hindu sehingga
dapat diterima di kalangan masyarakat.. Pada saat itu, para pedagang banyak
berhubungan dengan para penguasa dan rakyat. Jalinan hubungan itu yang membuka peluang
terjadinya proses penyebaran agama dan budaya Hindu. Salah satu tokoh pendukung
hipotesis waisya adalah N.J. Krom.
b. Hipotesis
Kesatria
Hipotesis
kesatria mengungkapkan bahwa pembawa agama dan kebudayaan Hindu masuk ke
Nusantara adalah kaum kesatria. Menurut hipotesis ini, pada masa lampau di
India terjadi peperangan antarkerajaan. Para prajurit yang kalah perang,
kemudian mengadakan migrasi ke daerah lain. Tampaknya, di antara mereka ada
yang sampai ke Indonesia dan mendirikan koloni-koloni melalui penaklukan.
Mereka menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu di Indonesia. Salah seorang
pendukung hipotesis kesatria adalah C.C. Berg.
c. Hipotesis
Brahmana
Hipotesis
brahmana mengungkapkan bahwa pembawa agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia
ialah golongan brahmana. Para brahmana datang ke Nusantara diundang oleh
penguasa Nusantara untuk menobatkan menjadi raja dengan upacara Hindu (abhiseka
= penobatan). Selain itu, kaum brahmana juga memimpin upacara-upacara keagamaan
dan mengajarkan ilmu pengetahuan. Pendukung hipotesis ini adalah J.C. van Leur.
d. Hipotesis
Nasional
Hipotesis
nasional mengungkapkan bahwa penduduk Indonesia banyak yang aktif berdagang ke
India, pulangnya membawa agama dan kebudayaan Hindu. Sebaliknya, orang-orang
Indonesia (raja) mengundang para brahmana dari India untuk menyebarkan agama
dan kebudayaan Hindu di Indonesia. Jadi, bangsa Indonesia sendiri yang aktif
memadukan unsurunsur kebudayaan India. Banyak pemuda Indonesia yang belajar
agama Hindu–Buddha ke India dan setelah memperoleh ilmu, mereka kembali untuk
menyebarkan agama di Tanah Air.
Terlepas
dari hipotesis tersebut , orang-orang Indonesia ikut memegang peranan penting
dalam masuknya agama dan budaya India. Orang-orang Indonesia yang memiliki
pengetahuan dari pada pendeta India kemudian pergi ke tempat asal guru mereka
untuk melakukan ziarah dan menambah ilmu mereka. Sekembalinya dari India dengan
bekal pengetahuan yang cukup, mereka ikut serta menyebarkan agama dan budaya
dengan memakai bahasa mereka sendiri. Ajaran-ajaran yang mereka sebarkan dapat
lebih cepat diterima oleh penduduk. Jadi, proses masuknya budaya India ke Indonesia
menjadi lebih cepat dan mudah.
3.
Peta Jalur Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kepercayaan Hindu–Buddha
Pada
sekitar abad ke-2 sampai dengan 5 Masehi, diperkirakan telah masuk agama dan
kebudayaan Buddha ke Indonesia. Kemudian disusul pengaruh Hindu ke Indonesia
pada abad ke-5 Masehi. Agama dan budaya Hindu-Buddha dibawa ke Indonesia oleh
para pedagang dan pendeta dari India atau Cina, masuk ke Indonesia mengikuti
dua jalur.
a. Melalui
Jalur Laut
Para
penyebar agama dan budaya Hindu –Buddha yang menggunakan jalur laut datang ke Indonesia
mengikuti rombongan kapal-kapal para dagang yang biasa beraktivitas pada jalur
India–Cina. Rute perjalanan para penyebar agama dan budaya Hindu Buddha, yaitu
dari India menuju Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya, kemudian ke Nusantara.
Sementara itu, dari Semenanjung Malaya ada yang terus ke Kamboja, Vietnam,
Cina, Korea, dan Jepang. Di antara mereka ada yang langsung dari India menuju Indonesia
dengan memanfaatkan bertiupnya angin muson barat.
b. Melalui
Jalur Darat
Para
penyebar agama dan budaya Hindu –Buddha yang menggunakan jalur darat mengikuti
para pedagang melalui Jalan Sutra, dari India ke Tibet terus ke utara sampai
dengan Cina, Korea, dan Jepang. Ada juga yang melakukan perjalanan dari India
utara menuju Bangladesh, Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya kemudian
berlayar menuju Indonesia.
Friday, February 19, 2010
Thursday, February 18, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)








